1. Pengertian al- Asma’ al-Husna
Dalam Islam, mengetahui, memahami, dan meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah menempati kedudukan yang sangat tinggi. Seseorang tidak mungkin menyembah Allah dengan cara yang sempurna sampai ia benar-benar mengetahui dan meyakini nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dengan dilandasi pengetahuan dan keyakinan terhadap nama dan sifat-Nya itulah, seseorang dapat menyertakan mata hatinya (bashirah) saat menyembah kepada Allah Swt.”Hanya milik Allah al-Asma’ al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma’ al-Husna itu” (QS. al- A’raf [7] : 180)
Al-Asma’ al-Husna berasal dari bahasa Arab (al-Asma’ al-Husna) artinya nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama (penyebutan) dan husna berarti yang baik atau yang indah, jadi al-Asma’ al-Husna adalah nama-nama milik Allah yang baik dan yang indah. Al-Asma’ al-Husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah. Nama-nama Allah itu adalah nama yang baik dan sempurna, sedikitpun tidak ada kekurangannya dan tidak boleh diserupakan dengan yang yang lainnya.
”Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asma’ul husna (nama-nama yang baik)” (QS. Taha [20] : 8)
Al-Asma’ al-Husna adalah nama-nama Allah yang indah. Jumlahnya ada 99 nama, seperti tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, al Turmudsi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda :
“Sesungguhnya bagi Allah 99 nama, barang siapa yang menghafalnya ia akan masuk surga. Dan sesungguhnya Allah itu ganjil (tidak genap) menyukai akan yang ganjil” (HR. Imam Baihaqi).
2.
Mengkaji 16 Asma’ul Husna
a.
Al- Kariim
(Yang Maha Mulia)
Al-kariim artinya Yang Maha Mulia. Allah adalah Dzat Yang Maha sempurna dengan kemuliaan-Nya, tidak
dilebihi oleh siapapun selain-Nya. Karena kemuliaan-Nya, Allah memiliki
kebaikan yang tidak terbatas. Dia akan memberi jika diminta, dan tetap memberi
meski tidak diminta.
“Maka Maha Tinggi Allah,
raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy
yang mulia” (QS. al-Mu’minun [23]:116)
Karena kemuliaan-Nya itu pula, Allah memuliakan al-Qur’an,
malaikat, para Nabi dan juga
manusia. Jibril, malaikat yang
menyampaikan kitab Allah kepada Nabi Saw, adalah utusan yang mulia, Rasulullah
Saw. juga seorang Nabi yang mulia, begitu pula dengan anak-anak Adam lainnya.
”Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS.al-Isra’ [17] :70)
Dengan memahami dan menghayati makna al-Asma’ al-Husna al-Kariim,
maka hendaknya kita memiliki budi pekerti yang luhur, diantaranya adalah:
1) Menghiasi
diri dengan akhlak yang baik
2)
Menjaga kehormatan diri
3)
Memuliakan para Rasul, Malaikat, kitab Allah dan semua makhluk
ciptaan Allah. Sehingga kita bisa mulia di sisi Allah maupun di sisi manusia
b.
Al- Mukmin (Yang
Maha Keamanan)
Al-Mukmin artinya Yang Maha Memberi Keamanan.
Allah adalah satu-satunya dzat yang memberi rasa aman, ketenangan dalam hati
manusia.
”Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati
orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka
(yang telah ada)” (QS. AlFath[48]:4)
Manusia secara pribadi atau kelompok akan selalu berusaha
memperoleh rasa aman dengan cara yang
berbeda-beda. Padahal hakikat rasa aman itu sebenarnya hanya dari Allah. Pasalnya Allah Swt. adalah tempat berlindung
para hamba dari rasa takut. Salah satu
rasa aman yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah rasa aman dari siksa dunia
dan akhirat.
”Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha
Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara,
yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci
Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS.al-Hasyr [59] :23)
Dengan memahami dan menghayati makna Asma’ul Husna al-Mu’min
seharusnya kita meneladani sifat Allah tersebut, yaitu:
1) Memberikan
rasa aman
2)
Menjadi pribadi yang bisa dipercaya dan menjauhi sifat khianat
3)
Menunjukkan sikap yang ramah dan sopan santun kepada sesame
4)
Menciptakan lingkungan keluarga, tetangga, dan masyarakat yang
kondusif
5)
Mengembangkan pemikiran yang baik dan positif bagi sesama
c.
Al- Wakil
(Yang Maha Mewakili)
Al-Wakil artinya Yang Maha Mewakili.
Allah adalah al-Wakil. Dia yang paling tepat untuk mewakili dan
menangani segenap urusan makhluk. Allah
adalah Dzat yang bertanggungjawab atas semua makhluk. Dia menciptakannya dari
ketiadaan, lalu mengawasi dan menjaga mereka.
Selayaknyalah Allah menjadi tempat bergantung bagi para makhluk-Nya.
”Dan bertawaklallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai
Pemelihara” (QS.
Al-Ahzab [33] :3)
Dalam bertawakkal, manusia masih tetap dituntut untuk melakukan
sesuatu sampai batas kemampuannya, bukan berarti menyerahkan begitu saja segala
sesuatu kapada Allah, tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha
yang maksimal. Setelah memahami dan menghayati makna Asma’ul
Husna al-Wakiil maka marilah kita meneladaninya dengan cara:
1) Berserah
diri kepada Allah
2) Bersyukur
kepada-Nya
3) Menjadikan
Allah sebagai sumber kekuatan dan pengharapan
4) Tidak
berputus asa dalam berdoa dan bekerja
5) Berupaya
menjadi pribadi yang memiliki kredibilitas
6) Menjiwai
setiap ikhtiar atau perbuatannya dengan mengharap keridhaan-Nya
d.
Al- Matin (Yang
Maha Kukuh)
Al-Matiin artinya Yang Maha Kukuh. Tiada
sesuatupun yang dapat mengalahkan dan mempengaruhi-Nya. Imam alKhattabi memaknai
al-Matiin sebagai Dzat Yang Maha Kuat yang kekuatan-Nya tidak dapat
terbendung, tindakantindakan-Nya tidak terhalangi dan tidak pernah merasa
lelah.
”Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai
kekuatan lagi sangat kukuh” (QS. adz-Dzariyat [51] :38) Allah Maha Kukuh. Kukuh kekuasan-Nya, kukuh kehendak-Nya,
kukuh dalam sifat-sifat-Nya. Bagi kita sebagai
hamba-Nya, hendaknya kekukuhan Allah menjadi landasan sikap kita sekurang-kurangnya
untuk teguh memegang prinsip kebenaran, memiliki keinginan yang kuat, tidak
tergoda untuk menerima atau mencari rezeki secara batil, konsekuen dalam
membela kebenaran, menjadi manusia yang tawakkal, memiliki kepercayaan dalam
jiwanya dan tidak merasa rendah di hadapan manusia lain, karena hanya Allah lah
Yang Maha Kuat dan Maha Kukuh
e.
Al- Jami’ (Yang
Maha Mengumpulkan)
Al-Jami’ artinya Yang Maha Mengumpulkan.
Allah adalah Dzat yang
mengumpulkan semua makhluk padahari
kiamat. Menurut Imam Khattabi, tujuan
Allah mengumpulkan makhluk pada hari itu adalah untuk membalas kebaikan dan
keburukan yang dilakukan para makhluk.
Pada saat Allah mengumpulkan para makhluk, tidak ada satupun yang
luput. Baik makhluk yang meninggal
terbakar, yang dilumat binatang buas atau yang tenggelam di lautan.
‘’Katakanlah "Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian
mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada
keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
(QS. al-Jatsiyah [45] : 26) Pada hari
itu, yang paling bahagia adalah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang beriman
kepada Allah, hari akhir, dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Dengan memahami
dan menghayati makna Asma’ul Husna al-Jaami’ maka akan membuat kita sadar
bahwa kita suatu saat akan mati dan akan dikumpulkan di sebuah tempat yang bernama
padang mahsyar untuk menerima keputusan dan balasan atas perbuatan kita. Maka
hendaklah kita meneladani asma Allah al-Matin yaitu dengan :
1) Hiduplah
secara berjamaah (bersatu)
2)
Menghimpun potensi positif diri
3)
Mendukung upaya terwujudnya persatuan ummat Islam dunia
f.
Al- Hafidz
(Yang Maha Pemelihara)
Al-Hafidz
artinya Yang Maha Pemelihara. Allah Maha Hafiidz berarti Allah sebagai
Dzat Yang Maha memelihara. Allah lah yang memelihara seluruh makhluk-Nya,
termasuk langit dan bumi yang kita huni ini.
”Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara,
sedang mereka berpaling dari segala tandatanda (kekuasaan Allah) yang terdapat
padanya” (QS.Al-Anbiya’[21 ]:32)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras dalam Syarh Nuniyyah Ibnul
Qayyim, mengatakan asma Allah al-Hafidz, memiliki dua makna yang
pertama, bahwa Dia menjaga/memelihara apa yang dilakukan oleh hamba-Nya berupa
amal baik atau amal buruk, yang makruf atau yang mungkar, taat atau maksiat.
Yang kedua bahwa Allah adalah al-Hafidz, yakni yang menjaga
hamba-hamba-Nya dari segala hal yang tidak mereka sukai. Allah menghendaki agar
manusia mampu mengambil keteladanan dari sifat-Nya itu. Sebab, Dia telah menganugerahkan potensi kepada
kita untuk dapat melakukannya, maka marilah kita memelihara dan menjaga keimanan
kita kepada Allah, memelihara kebaikan, ketaatan, kemurnian niat dengan mengharap
keridhaan Allah.
g.
Al- Rafi’ (Yang
Maha Meninggikan)
Al-Rafi’
artinya Yang Maha Meninggikan. Allah alRafi’ artinya Dzat Yang Maha
mengangkat atau meninggikan derajat hamba-hamba-Nya. Allah meninggikan status
para kekasih-Nya serta memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh-Nya. Imam al-Ghazali memaknai al-Rafii’
sebagai Dzat yang meninggikan orang-orang mukmin dengan kebahagiaan dan surga,
serta meninggikan para wali-Nya dengan kedekatan kepada-Nya.
”Niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS.al-Mujadilah [58]:11)
Allah
Maha meninggikan derajat siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena-Nya tinggikanlah agama Allah dalam
berbagai aspek kehidupan agar Allah pun meninggikan derajat kita sebagai
hamba-Nya. Bekerja dan berusahalah secara sungguh-sungguh, meningkatkan
kemampuan diri, disiplin, serta menjunjung tinggi profesionalisme dan tanggung
jawab
h.
Al- Wahhab (Yang
Maha Pemberi)
Al- Wahhab artinya Yang Maha Pemberi. Allah alWahhab adalah Dzat yang maha memberi
tanpa batas, Dia memberi tanpa diminta, dan tanpa meminta balasannya. Dia
Allah, memberikan rahmat kepada makhluk-Nya tanpa pamrih, karena Dia tak membutuhkan
apapun kepada makhluk-Nya. Imam al-Ghazali
mengatakan bahwa Dia memberi berulang-ulang, bahkan berkesinambungan, tanpa mengharapkan
imbalan, baik duniawi maupun ukhrawi. Allah adalah Dzat yang memberi hidup dan
kehidupan, memberi karunia pada kita berupa kecukupan, kesehatan, dan kekuatan.
Dialah Dzat yang telah memberi kita otak, hati, pendengaran dan penglihatan,
kebahagiaan, keberhasilan, di samping makanan dan minuman, pasangan dan
keturunan dan lain sebagainya.
”Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan
anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak
lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki,” (QS. as-Syura[42]:49-50)
Di antara pemberian Allah yang paling agung adalah petunjuk-Nya
kepada kebenaran, yang telah diturunkan kepada hamba dan Nabi-Nya, Muhammad
Saw. Demikianlah Allah mengajarkan agar dalam setiap rakaat shalat, kita selalu
membaca: ”Tunjukilah Kami jalan yang lurus” (QS.al-Fatihah[1]:6)
Maka sebagai makhluk yang
mau mengimani asma Allah al-Wahhaab
jangan pernah bosan memohon
karunia kepada-Nya, niscaya Allah pun tak kan bosan mencurahkan karunia-Nya
pada kita.
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan
hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami,
dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya
Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)" (QS. Ali Imron[3]:8)
Hendaklah kita senang memberi terutama pada orang-orang yang
membutuhkan, dan dalam memberi hendaknya
kita tidak menghitung-hitung, termasuk dalam memberikan harta kepada sesama
yang membutuhkan.
i.
Al- Raqib (Yang
Maha Mengawasi)
Al-Raqib artinya Yang Maha Mengawasi. Al-Raqib, Maha Mengawasi,
Allah yang menjadikan hamba-Nya selalu berada dalam pengawasan-Nya. Syaikh ’Abdurrahman
as-Sa’di rahimahullah berkata: ”al-Raqib adalah Dzat yang maha memperhatikan
dan mengawasi semua hamba-Nya ketika mereka bergerak (beaktifitas) maupun
ketika mereka diam, (mengetahui) apa yang mereka sembunyikan maupun yang mereka
tampakkan, dan (mengawas) semua keadaan mereka.
”Kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi
saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus[10]:61)
Pengawasan Allah bersifat menyeluruh dan total. Dia menjaga segala sesuatu, mengawasinya,
hingga tak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya. Dengan memahami dan menghayati
asma Allah al-Rakiib, akan tumbuh dalam diri seseorang pengawasan dan kontrol
terhadap perbuatan lahiriah maupun batiniahnya.
Hal ini karena dia menyadari bahwa Allah mengawasi semuanya, yang lahir
ataupun yang batin, yang besar ataupun yang kecil, ucapan ataupun perbuatan,
bahkan juga niat.
j.
Al- Mubdi’u (Yang
Maha Memulai)
Al-Mubdi’u
artinya Yang Maha Memulai. Allah, Dia lah yang memulai semuanya. Memulai keberadaan alam beserta isinya melalui
kemampuan-Nya mencipta. Dia menciptakan sesuatu dari tiada, maka wujudlah
segala yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana diciptakan Nabi Adam sebagai manusia
yang paling awal diciptakan oleh Allah Swt.
”Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian
mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepadaNyalah kamu
dikembalikan” (QS. al-Rum [30] :11)
Allah menciptakan alam dan manusia dengan sempurna dan
sebaik-baiknya, tanpa ada contoh sebelumnya.
Coba kita bayangkan bagaimana Allah menciptakan makhluk hidup disertai
dengan bernacam-macam perkembangannya, agar mereka tidak cepat punah.
”Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan
(manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. al-Ankabut[29]:19)
Allah Maha Memulai, maka marilah kita meneladaninya dengan memulai
untuk banyak berbuat, dan mulai
mempersiapkan diri dalam segala hal.
k.
Al- Muhyi (Yang
Maha Menghidupkan)
Al-Muhyi artinya Yang Maha Menghidupkan. Allah menciptakan manusia,
menghidupkan, mematikan, kemudian menghidupkan kembali pada hari kiamat. Tidak ada yang menciptakan kehidupan dan
kematian kecuali hanya Allah Swt.
”Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan
kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), Sesungguhnya manusia itu, benar-benar
sangat mengingkari nikmat” (QS. al-Hajj [22]:66)
Allah menganugerahkan hidup bagi manusia dengan beraneka kualitas
kehidupannya, tergantung tingkat keimanan masing-masing.
”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. an-Nahl
[16]:97)
Bagi orang-orang munafik dan kaum kafir, Allah menjadikan kualitas
hidup mereka rendah dalam pandangan-Nya.
Kemudian pada hari kiamat nanti, mereka akan dibangkitkan dalam keadaan jauh
lebih hina dan hidup dalam siksa derita. Dengan mengimani bahwa Allah lah yang
Maha Menghidupkan, kita mengetahui betapa besarnya kemampuan Allah, karena Dia
lah yang menghidupkan segala sesuatu. Maka
hendaklah seseorang selalu menyerahkan dan menggantungkan segala urusannya kepada
Allah dan kembali kepada-Nya dengan menghidupkan segala petunjuk dengan perbuatan
ta’atnya. Menghidupkan syi’ar Islam dalam kehidupan, menghidupkan semangat
untuk maju, menghidupi diri sendiri, orang tua dan keluarga,dan lain sebagainya.
l.
Al- Hayyu (Yang
Maha Hidup)
Al-hayyu artinya Yang Maha Hidup.
Allah adalah Dzat yang tak mungkin mengalami kematian. Sifat hidup-Nya merupakan
sifat yang niscaya, mutlak dan tidak mengalami penyusutan, kerusakan atau
peniadaan.
”Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak
mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui
dosa-dosa hamba-hambaNya” (QS.al-Furqan[25]:58)
Hidupnya Allah berbeda dengan hidupnya makhluk. Allah hidup tanpa kaif
(bagaimana caranya) dan juga tanpa aina (di mana [di mana tempatnya]
). Dia tidak ada dalam sesuatu dan tidak
ada di atas sesuatu. Kehidupan Allah terlepas dari pembatasan waktu, tidak
seperti kehidupan makhluk yang diusahakan dan diabatasi oleh titik permulaan
dan titik akhir.
Allah Maha Hidup (al-Hayyu). Dengan sifat-Nya itu, Dia
seolah ingin menegaskan kepada hamba-Nya mengenai pentingnya memaknai hidup
yang dijiwai oleh keimanan kepada-Nya. Seorang hamba yang meneladani asma Allah
al-Hayyu, selalu menjadikan Allah sebagi pusat ketergantungan dan
ketundukan dalam segala usaha dan permohonan. Ia meyakini bahwa Allah lah yang
memberikan kehidupan dan yang mengurus kehidupannya. Maka dengan kemandirian dan usaha maksimal,
ia terus meraih hidup yang bermakna, menghargai hak hidup orang lain, membantu
sesama dalam memenuhi hak hidup
m. Al-
Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri)
Al-Qayyum artinya Yang Maha Berdiri Sendiri. Allah al-Qoyyum adalah Dzat
yang maha mengelola dan tidak pernah alpa. Al-Qoyyum bersifat
hiperbolis, memiliki makna ”memelihara”, mengaktualisasikan”, ”mengatur”, ”mendidik”,
”mengawasi”, dan ”menguasai sesuatu”. Pengelolaan terhadap semesta ini
dilakukan Allah secara sendirian, tanpa bantuan atau pertolongan siapapun, baik
pertolongan para malaikat, para penyangga ’Arsy dan seluruh penghuni
langit dan bumi .
Asy-Syaikh al-Harras
menjelaskan bahwa al-Qayyum memiliki dua makna: Pertama,
Dia yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan seluruh makhluk, sehingga tidak butuh sesuatu pun, baik dalam hal adanya
maupun dalam hal eksistensiNya.
Kedua, Dialah yang selalu mengatur makhluk-Nya. Dia selalu mengatur dan memperhatikan
urusan makhluk-makhluk-Nya, tidak mungkin Dia luput sesaatpun dari mengawasi
mereka, kalau tidak demikian maka akan kacau
aturan alam dan akan hancur tonggak-tonggaknya
”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia
yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)” (QS.
al-Baqarah[2]: 255)
Setelah memahami dan menghayati asma Allah alQayyum, hendaknya
kita menyadari bahwa, Allah Yang Maha Berdiri sendiri telah menunjukkan
kekuasaan serta keagungan-Nya. Maka seyogyanya kita mampu memaknainya dan
meneladaninya dengan berusaha untuk menjadi pribadi yang mandiri, menghargai
jerih payah, kerja keras, serta kesungguhan orang lain dalam melakukan suatu
kebaikan.
n.
Al- Akhir (Yang
Maha Akhir)
Al-Akhir artinya Yang Maha Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah Allah
Swt. Allah al-Akhir menunjukkan
bahwa Allah adalah Dzat yang ”mengakhiri” segalanya. Allah lah Tuhan, tiada Tuhan setelah-Nya. Allah lah sang Pencipta, tiada Sang Pencipta
setelah-Nya. Allah lah penentu kehidupan
manusia, tiada Penentu selain-Nya.
”Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin
dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu” (QS. al-Hadid [57] :3)
Sebagai Dzat Yang Maha Akhir, Allah Swt. akan tetap abadi dan
kekal. Keabadian dan kekekalan Allah
Swt. menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya tempat bergantung atas segala
urusannya, baik urusan dunia maupun urusan yang akan kita bawa sampai ke akhirat
kelak. Sungguh sangat merugi orang-orang
yang menggantungkan hidupnya pada selain Allah,
karena sesungguhnya setiap yang ada di langit dan bumi ini akan hancur. Akan tetapi jika kita bersandar penuh pada
sang Maha Kekal, pastinya kita tidak akan hancur dan terjerumus dalam
kesesatan. Orang yang mengesakan al-Akhir akan menjadikan Allah Swt.
sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup selainNya, tidak ada permintaan
selain-Nya, dan segala kesudahan hanya tertuju kepada-Nya.
Setelah memahami dan meyakini bahwa Allah adalah al-Akhir,
kita menyadari bahwa tujuan akhir kita adalah kembali kepada Allah Swt. maka sejatinya tidak
menunda-nunda dalam berbuat kebaikan.
Justru, kita harus berusaha menyegerakan dan memperbanyak amal saleh sebagai
persiapan dalam menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
o.
Al- Mujib (Yang
Maha Mengabulkan Doa)
Al-Mujib artinya Yang Maha Mengabulkan Doa. AlMujib adalah nama Allah yang dengan
sifat ini Dia mengabulkan atau memperkenankan semua permintaan atau permohonan
hamba-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
”Dialah al-Mujib. Dia mengatakan. ’Siapa yang berdoa,’ Akulah yang
menjawab setiap orang yang memanggil-Ku.’ Dialah yang mengabulkan doa orang
yang terhimpit ketika memohon kepada-Nya, dalam keadaan tersembunyi atau
terangterangan.”
Menurut Imam al-Ghazali, al-Mujib yaitu yang menyambut
permintaan para peminta dengan memberinya, menyambut doa yang berdoa dengan
mengabulkannya, memberi sebelum dimintai dan melimpahkan anugerah sebelum
dimohonkan. Hal ini hanya bias dilakukan
oleh Allah karena Dia lah yang mengetahui kebutuhan dan hajat setiap makhluk. Itu sebabnya Allah menyuruh kita berdoa
kepada-Nya :
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu.
Seorang hamba yang meneladani asma Allah al-Mujib, akan selalu
memenuhi seruan- seruan Allah dan rasul-Nya.
Ia juga tak pernah bosan memohon kepada Allah. Iya sadar bahwa doa merupakan ibadah. Doa merupakan titik temu terdekat antara
hamba dengan Rabbnya. Doa adalah
senjata, benteng, obat dan pintu segala kebaikan. Ia juga akan selalu berusaha
untuk memenuhi permintaan orang lain, selama dalam batas kemampuannya dan tidak
bertentangan dengan syari’at, baik materi ataupun non materi. Rasulullah Saw. Pun menunjukkan bahwa beliau
tidak pernah menolak permohonan yang ditujukan kepadanya
p.
Al- Awwal (Yang
Pertama)
Al-Awwal artinya Yang Pertama.
Allah al-Awwal adalah Dia lah Yang Pertama. Namun Dia juga Yang Terakhir. Hal ini sebagaiman ditegaskan dalam al-
Qur’an :
”Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin
dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu” (QS. alHadid [57]:3)
Imam Ali bin Abi Thalib melukiskan sifat Allah al-Awwal
yaitu
”Dia yang awal yang bagi-Nya tiada’sebelum’, sehingga mustahil ada
sesuatu sebelum-Nya”. Allah al-Awwal
berarti Allah yang mengawali semuanya. Keberadaan alam ini beserta isinya diawali
oleh keberadan-Nya. Sebagai yang awal,
tentu tidak ada yang mengawali-Nya. Itulah sebabnya Dia disebut al-Awwal.
Hal ini menuntut seorang hamba agar memperhatikan keutamaan Rabbnya dalam setiap nikmat, baik berupa nikmat agama
ataupun dunia, dimana sebab musababnya berasal dari Allah. Hamba yang meneladani asma Allah alAwwal,
akan selalu menjadi manusia yang the best of the best dan yang
pertama dalam melaksnakan amar makruf nahi munkar. Semua itu ia lakukan
demi mendapatkan akhir yang husnul khatimah
0 comments:
Posting Komentar