A. Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu
Kenapa hawa nafsu diciptakan? Pada hakikatnya semua manusia memiliki nafsu, karena manusia tidak dapat hidup jika tidak ada nafsu. Allah menciptakan manusia disertai dengan hawa nafsu. Banyak mengandung faedah, meski tidak bisa hidup jika tidak ada nafsu. Andaikata nafsu makan dicabut (misalnya) pasti binasalah manusia. Jika nafsu terhadap lawan jenis dihilangkan, mereka tidak punya keturunan dan akhirnya binasa. Nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa, baik bersifat positif maupun negatif, baik bersifat jasmani maupun ruhani.
Perbuatan baik ataupun buruk digerakkan oleh nafsu, artinya menjadi pusat komando segala kegiatan manusia, sekaligus sebagai motor penggerak yang menggerakkan segala macam tingkah laku manusia. Nafsu itu ibarat seperti sungai dia bisa mengalir dengan tenang dan bisa meluap atau menghancurkan, dan karena itu perlu dikontrol dengan sistem bendungan dan irigasi yang baik sehingga memberikan manfaat yang maksimal bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Sehingga pada hakikatnya nafsu itu penting bagi diri manusia akan tetapi penggunaan nafsu yang tidak terkontrol pada diri manusia itu yang berbahaya.
B. Memahami Nafsu Syahwat
1. Pengertian Nafsu Syahwat
Secara istilah, nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Syahwat secara lughawi artinya menyukai atau menyenangi. Yaitu kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya. Kecintaan itu sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allah ’azza wa Jalla dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang lezatt. Adapun secara istilah syari’at, nafsu syahwat adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.
Maka hakikat syahwat (keinginan) nafsu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai dengan tabi’atnya (watak) dan menjauhi sesuatu yang tidak disukai dan dicintai. Akan tetapi, sebenarnya keberadaan syahwat pada manusia itu tidak tercela, karena terdapat faedah dan manfaat didalamnya. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat. Misalnya, menuruti nafsu syahwat dengan melakukan kemaksiatan mulai dari menonton film porno, berpacaran dan akhirnya sampai pada perzinaan. Dorongan nafsu syahwat mengarah kepada tiga hal besar, yaitu :
a. Syahwat dan kesenangan terhadap harta benda, sehingga melahirkan kerakusan, perampokan, pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik, seperti pembunuhan dan penganiayaan.
b. Syahwat dari kesenangan terhadap seks, sehingga melahirkan kejahatan dan kekejian berupa perzinaan, pemerkosaan dan penyimpangan seksualitas lainnya, bahkan hanya karena seks terjadi pembunuhan dan penganiayaan fisik.
c. Syahwat dan kesenangan terhadap jabatan dan kedudukan, sehingga melahirkan para pejabat dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator. Akhirnya menindas siapa saja yang akan menghalang-halangi.
2. Bahaya
Menuruti Nafsu Syahwat
Salah satu sifat dari nafsu
syahwat adalah “tidak pernah terpuaskan”, disaat kita menuruti satu keinginannya, nafsu itu akan
menuntut hal lain dan akan terus begitu hingga tak ada habisnya. Mempunyai satu
gunung emas pun masih tak cukup ia masih
ingin yang lebih. Orang yang mengikuti
hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allah
Swt. dan Rasul-Nya. Dia akan selalu menjadikan hawa nafsu menjadi tolak
ukurnya, dia dibuat buta dan tuli oleh hawa nafsunya. Orang yang mengikuti hawa
nafsu tanpa terkendali akan mengakibatkan bahaya besar sebagai berikut.
a. Merusak
potensi diri seseorang. Nabi Saw. mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan
membawa kehancuran.
b. Mendatangkan
kesusahan dan kesempitan
c. Mengakibatkan
rusaknya lingkungan alam karena nafsu mengeksploitasi alam yang berlebih-lebihan.
d. Melahirkan
kerakusan, perampokan, pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik,
seperti pembunuhan dan penganiayaan.
Sebagai dampak menuruti syahwat harta.
e. Lahirnya
para pejabat dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator.
f. Dampak
menuruti syahwat kesenangan terhadap kelezatan makanan, akan menimbulkan
berbagai macam penyakit tubuh.
g. Nafsu
akan mendorong manusia untuk berbuat jahat, melampiaskan syahwat dan menentang
ajaran agama. Apabila pelampiasan nafsu syahwat sex pada remaja akan menimbulkan
dampak yang lebih berbahaya diantaranya adalah putus sekolah, suramnya masa
depan, perceraian, melahirkan anak terlantar, dan tumbuhnya generasi yang
memerosotkan harkat dan martabat negara.
3. Cara
Menundukkan Nafsu Syahwat
Walaupun memenuhi kebutuhan hidup yang disukainya itu
diperbolehkan, namun bukan berarti seorang mukmin dibolehkan selalu menuruti
hawa nafsunya bahkan dia harus mengendalikannya. Termasuk menahan syahwat perut,
yang kemudian timbul syahwat kemaluan dan rakus harta benda. Maka wajib bagi
kita berusaha untuk menundukkan nafsu itu demi keselamatan dan kesejahteraan
dunia akhirat dengan jalan sebagai berikut.
a.
Meningkatkan taqwa kepada Allah dengan menerapi diri dengan rasa
takut kepada Allah Swt.
b.
Dengan Mujahadah
Mujahadah berasal dari kata al-jihad yaitu berusaha dengan segala kesungguhan, kekuatan dan kesanggupan pada jalan yang diyakini benar. Mujahadah artinya berusaha untuk melawan dan menundukkan kehendak hawa nafsu. Rasulullah bersabda seorang mujahid yaitu seorang yang berjihad, yaitu dia yang melawan hawa nafsunya karena Allah.
Mujahadah melawan nafsu dengan cara menempuh tiga
langkah seperti berikut :
1)
Takhalli, mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela.
2)
Tahalli, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji
3)
Tajalli, tersingkapnya tabir yang menghalangi antara manusia dan
Allah, rasa dilihat dan diawasi oleh
Tuhan, kerinduan hanya tertuju pada Tuhan.
Ketiga peringkat ini hendaklah dilakukan dengan melaksanakan
latihan-latihan rohaniah yang dinamakan riyadah al nafs yakni
latihan untuk melawan atau menentang atau memerangi semua
kehendak-kehendak nafsu yang jahat. Latihan menundukkan hawa nafsu ini perlu
dilaksanakan sedikit demi sedikit tetapi istiqamah, selain itu hendaklah
bermujahadah dalam beramal.
Perjuangan untuk melawan hawa nafsu tidaklah mudah. Imam al-
Ghazali dalam Raudatu al-taalibin berkata ”Berhati-hatilah kamu
dengan hawa nafsu. Ia adalah musuh kita
yang paling ketat dan yang paling sukar untuk dikalahkan.”
c.
Dengan jalan riyadah
Riyadah adalah latihan kerohanian dengan menjalankan ibadah dan
menundukkan keinginan nafsu syahwat. Riyadah ini dapat ditempuh dengan
dua cara yaitu riyadah badan yaitu dengan mengurangi makan, minum, tidur
dan mengurangi berkata-kata. Yang kedua riyadah rohani yaitu dengan
memperbanyak ibadah, berzikir, bertafakkur, memperhatikan kejadian alam dan
susunannya, serta memperhatikan segala keadaan masyarakat yang penuh kejahilan
akibat menuruti hawa nafsu.
4. Hikmah
Menundukkan Nafsu Syahwat
Nafsu syahwat pada diri manusia itu tidak boleh dihilangkan,
tetapi penting untuk ditundukkan dan
diarahkan sehingga akan memperoleh manfaat kebaikannya sebagai berikut.
a. Menjadi
motivasi untuk berbuat baik, beribadah dan meraih kesuksesan
b.
Hidup lebih terarah dan terkontrol. Selamat dan bahagia dunia
akhirat
c.
Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar
d.
Disukai banyak orang
C. Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)
1.
Pengertian Marah (Gadab)
Marah dalam pengertian gadab artinya merasa tidak senang
dan panas hati karena suatu peristiwa atau sebabsebab tertentu. Marah adalah sifat
alamiah yang ada pada manusia, namun diantara mereka ada yang bias mengendalikannya
ada juga yang tidak bisa. Maka itulah Islam mengajarkan untuk bisa
mengendalikan marah. Nafsu amarah selalu
mendorong diri manusia untuk melahirkan perbuatan, sikap, dan tindakan
kejahatan atau syahwat hewani dan kesenangan kepada kejahatan. Kecenderungan
ini begitu kuat, sehingga banyak orang dibuat tak berdaya, kecuali sedikit
orang yang mendapat rahmat dari Allah Swt. Memang sifat marah merupakan tabiat manusia,
karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan tidak mau
ditolak keinginannya. Nafsu amarah adalah satu musuh dalam (musuh batin) yaitu
nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan dan jauh lebih berbahaya
dibandingkan musuh-musuh yang lainnya. Di samping itu juga sifat marah merupakan bara
api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri
mereka. Karena dengan kemarahan, seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga
melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi
dirinya. Oleh karena itu, umat Islam yang
bertakwa kepada Allah Swt. Meskipun tidak luput dari sifat marah, akan tetapi
karena mereka selalu berusaha melawan keinginan nafsu. Sehingga mereka mampu
meredam kemarahan mereka. Allah berfirman:
2.
Bahaya Marah (Gadab)
Marah akan mengakibatkan bahaya besar baik bagi pelakunya maupun
orang lain. Berikut bahaya marah.
a. Bagi
diri sendiri, akan mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi, sehingga membuka peluang
terkena serangan jantung, cepat tua, gangguan tidur, gangguan pernapasan, sakit
kepala, struk dan depresi
b. Bagi
orang lain dan lingkungan, keputusan dan tindakan orang marah cenderung menambah
masalah bukan menyelesaikan masalah, menimbulkan kerusakan hubungan dengan
teman, dapat merusak keharmonisan keluarga, bisa mengakibatkan rusaknya
lingkungan, bisa mengakibatkan pembunuhan
3. Cara
Menundukkan Marah (Gadab)
Sebagaimana diketahui bahwa obat atas setiap penyakit seperti
virus dan faktor penyebab timbulnya
penyakit itu harus dapat dihilangkan. Karena itulah untuk bias mengobati marah
kita juga harus tahu sebab-sebabnya.
Sebab-sebab marah antara lain karena tidak kuat menahan nafsu,
sombong, ujub, banyak melakukan sendau gurau, perbuatan yang sia-sia,
melecehkan orang lain, menghina, berdebat, bertengkar, berkhianat, serta cinta
kepada harta dan kedudukan. Semua itu merupakan perangai yang buruk dan tercela
dalam Islam. Seseorang tidak dapat terhindar dari amarah apabila masih ada
sifat-sifat itu.
a.
Dengan riyadah
Cara menundukan sifat-sifat tercela marah diperlukan pelatihan
diri (riyadah) dan kesabaran
dalam menghadapi segala rintangan. Riyaadah yang diperlukan diantaranya adalah
dengan mengetahui akibat-akibat buruk dari sifat-sifat tersebut. Setelah itu menerapkan
dalam diri anda kembalikan dari sifat-sifat itu, misalnya sombong dengan tawadhu’,
haus harta dengan qana’ah, dan lain sebagainya. Selain itu dengan memperbanyak
berzikir, membaca ta’awudz, beristighfar, dan memberi maaf. Sifat-sifat mulia
ini terus diterapkan dalam diri. Memang memerlukan waktu yang cukup lama hingga
merasa ringan mengerjakannya karena sifat itu telah menyatu dalam dirinya.
b.
Mujahadah
Berusaha sungguh-sungguh dengan sekuat tenaga menahan hawa nafsu
untuk tidak melampiaskannya kepada
kemarahan, dan menyadari akan dampak negatifnya bila melampiaskan marah.
c.
Menahan hawa nafsu
d.
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan meminta diberi
wasiat. Lalu
Rasulullah bersabda:
“Dari Abu Hurairah ra.
Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw.: Berilah wasiat kepadaku.
Sabda Nabi Saw.: Janganlah engkau marah.
Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda Beliau: Janganlah engkau
marah”. (HR. Bukhari).
Dalam kitab adab al-Dunya wa al-Din, Imam al- Mawardi mengemukakan
beberapa metode penyembuhan marah yaitu dengan cara yang pertama, menimbulkan
rasa takut (khauf) kepada Allah, yang kedua menyadari dampaknya dan yang
ketiga menyadari betapa besar pahalanya bila mampu menahannya.
4. Hikmah
Menghindari Marah
Tak tanggung-tanggung, Allah menjanjikan surga bagi mereka yang
menahan amarah dan memaafkan. Mereka akan disukai oleh Allah Swt. Sesama
manusia, dan juga malaikat-Nya.
Mendatangkan kebaikan, di tempatkan di surga. Selain itu orang yang bias
menahan marah akan mempermudah urusan dan memperlancar rezeki.
0 comments:
Posting Komentar