This is default featured slide 1 title

Welcome To Blog Madrasah Education

This is default featured slide 2 title

Madrasah Aliyah Al-Haudl Ketapang

This is default featured slide 3 title

Materi Pembelajaran Akidah Akhlak.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 30 Oktober 2022

Akidah Akhlak Kelas X Materi Ayo Bertaubat

 

        A. Pengertian Taubat

Secara bahasa taubat berasal dari bahasa Arab yang bermakna kembali. Dia bertaubat, artinya dia kembali dari dosanya (berpaling dan menarik diri dari dosa). Taubat adalah kembali kepada Allah Swt. dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus menerus melakukan dosa lalu melaksanakan semua hak Allah. Secara Syar’i, taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya.

       B Hakikat Taubat

Hakikat taubat yaitu perasaan hati yang menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allah pada sisa usianya serta menahan diri dari dosa. Melakukan amal shaleh dan meninggalkan larangan adalah wujud nyata dari taubat. Mengucapkan istighfar merupakan wujud perbuatan awal bertaubat. Taubat mencakup penyerahan diri seorang hamba kepada Rabbnya, inabah (kembali) kepada Allah dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah. Sekadar meninggalkan perbuatan dosa, namun tidak melaksanakan amalan yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla, itu belum dianggap bertaubat. Seseorang dianggap bertaubat jika ia kembali kepada Allah Swt. dan melepaskan diri dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa. Tanamkan makna taubat dalam hati sebelum diucapkan secara lisan. Senantiasa mengingat apa yang disebutkan Allah ‘Azza wa Jalla berupa keterangan terperinci tentang surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang taat dan mengingat siksa neraka yang diancamkan bagi pendosa. Berusaha terus melakukan itu agar rasa takut dan optimisme kepada Allah semakin menguat dalam hati.  Dengan demikian, ia senantiasa berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan cemas agar Allah ‘Azza wa Jalla berkenan menerima taubatnya, menghapuskan dosa dan kesalahannya.

       C.  Syarat-syarat Taubat

Taubat wajib dilakukan dengan segera, tidak boleh ditunda. Imam Ibnul Qayyim ra. berkata: ”Sesungguhnya segera bertaubat kepada Allah Swt. dari perbuatan dosa hukumnya adalah wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda.” Imam Nawawi rahimahullah berkata,” Para ulama telah sepakat, bahwa bertaubat dari seluruh perbuatan maksiat adalah wajib, wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda, apakah itu dosa kecil atau dosa besar.” Namun dalam bertaubat, seseorang harus memenuhi beberapa syarat. Adapun  syarat-syarat taubat secara terperinci sebagai berikut.

a.       Islam, karena orang yang kafir tidak diampuni dosanya sebelum masuk Islam

b.      Menyesali dosanya

c.       Menyadari kesalahan (mengakui dosanya)

d.      Ikhlas melakukannya, bukan untuk tujuan riya’ atau kepentingan dunia

e.       Memohon ampun kepada Allah dengan memperbanyak membaca istighfar

f.        Berjanji  tidak akan mengulangi.

g.      Menutupi kesalahan  dengan perbuatan yang terpuji (amal shalih)

h.      Masa taubat sebelum nafas sampai di tenggorokan  dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat

i.        Memperbanyak istighfar sebagaimana Rasulullah tiap hari bertaubat dengan membaca istighfar seratus kali dan rajin sholat taubat

j.        Jika perbuatan dosanya itu ada hubungannya dengan orang lain

       D.  Kedudukan Taubat

Menurut Ibnul Qayyim, kedudukan taubat adalah kedudukan yang pertama, pertengahan, dan terakhir. Hamba yang meniti jalan menuju Rabbnya tidak akan menjauhinya (jalan tersebut) dan selalu menetapinya sampai mati. Jadi, taubat adalah langkah awal dan langkah akhir seorang hamba. Kebutuhan dirinya terhadap taubat diakhir perjalanan sangatlah diperlukan, sebagaimana halnya kebutuhannya di awal perjalanan juga sangat besar. Bagi orang mukmin, taubat itu hukumnya wajib. Dalil al-Qur’an dan as-Sunah saling mendukung atas wajibnya melakukan taubat dan kedudukannya dalam mewujudkan kesalehan dan kejayaan hamba di dunia dan di akhirat.

Taubat yang sesungguhnya itu adalah taubat nasuha, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, ”Taubat yang tulus lagi mantab itu adalah taubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh), yang menghapuskan keburukan-keburukan sebelumnya dan mencegah keburukan yang mendatang.” Taubat nasuha adalah meninggalkan dosa sekarang dan menyesali dosa yang telah dilakukan serta tidak mengulangi lagi di masa mendatang. Allah membagi hambanya menjadi hamba yang bertaubat dan hamba yang menzalimi. Maka barang siapa tidak bertaubat, berarti ia layak menjadi orang yang zalim karena kebodohannya terhadap Rabb dan hak-Nya, serta karena kekurangan diri dan cacat

       E.  Keutamaan Taubat

Orang yang benar-benar bahagia adalah yang menjadikan taubat sebagai sahabat dekat dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat. Sedangkan orang yang binasa adalah yang menelantarkan dan mencampakkan taubat di belakang punggungnya. Beberapa keutamaan taubat adalah sebagai berikut.

a.       Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah.

b.      Taubat merupakan sebab keberuntungan

c.       Taubat menjadi sebab-sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya

d.      Taubat merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari api neraka

e.       Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat

f.        Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan

g.      Taubat menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan

h.      Taubat adalah untuk menggapai keimanan dan pahala yang besar

i.        Taubat merupakan sebab turunnya berkah dari atas langit serta bertambahnya  kekuatan

j.        Menjadi sebab malaikat mendoakan orang-orang yang bertaubat

k.      Allah akan menghapuskan dosa-dosanya, seolah-olah tidak berdosa.

l.        Menjadi sebab hati menjadi bersinar dan bercahaya.

m.    Taubat akan memotivasi seseorang untuk amar ma’ruf nahi mungkar, beramal saleh, hidup jujur, disiplin dan bertanggung jawab.

Jumat, 28 Oktober 2022

Akidah Akhlak Kelas X Materi Ayo Mengenal Sifat-Sifat Allah Swt.

        1. Pengertian Sifat Wajib dan Sifat Jaiz Allah

Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna dan yang Maha Agung. Nama Allah juga disebut  اسم الجلالة Dzat-Nya adalah tunggal, tidak terdiri dari unsur-unsur dan bagian-bagian dan tidak ada suatu apa pun yang serupa dengan-Nya. Dan karena itu manusia dilarang berpikir tentang Dzat Allah karena tidak dapat mengetahuinya. Manusia dipanggil untuk menggunakan akalnya bagi memikirkan alam ini dan segala isinya, tidak untuk memikirkan Dzat Allah yang gaib itu dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Beriman kepada Allah berarti manusia wajib beriktikad dengan penuh yakin akan sifat-sifat yang wajib, sifat-sifat yang mustahil dan sifat-sifat yang jaiz. Sifat wajib Allah adalah sifat-sifat yang khusus yang hanya dimiliki oleh Allah, dan tidak ada satupun makhluk yang memiliki sifat tersebut. Adanya Allah ini,  menjadi salah satu sifat yang melekat pada sifat wajib Allah. Sifat wajib Allah inilah yang membedakan Allah sebagai sang Pencipta (Khalik), dengan semua makhluk ciptaan-Nya. Sifat mustahil Allah adalah sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah Azza wa Jalla Yang Maha Sempurna. Sedangkan sifat jaiz Allah adalah adalah sifat yang mungkin (boleh) ada atau sifat yang mungkin (boleh) tidak ada pada Allah. Selanjutnya kita akan mengkaji dua sifat Allah, yaitu sifat wajib dan sifat jaiz Allah.

        2. Sifat Wajib Allah

Dalam al-aqidah as-Sughra yang terkenal dengan judul Umm al-Barahain Imam as-Sanusi mengatakan ”Maka di antara sifat wajib bagi Allah Tuhan  Yang Maha Agung dan Maha Perkasa adalah 20 sifat.”  Setiap mukalaf wajib meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah pasti bersifat dengan segala kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya.  Berikut ini 20 sifat wajib bagi Allah.

a.       Wujud (Ada)

Allah adalah Dzat yang pasti ada. Dia berdiri sendiri, tidak diciptakan oleh siapapun, dan tidak ada Tuhan selain Allah SWT.

b.      Qidam (Terdahulu/Awal)

Dialah sang pencipta yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Maksudnya,Allah telah ada lebih dulu dari pada apa yang diciptakannya.

c.       Baqa (Kekal)

Maksudnya Allah maha kekal. Tidak akan punah, binasa, atau mati. Dia akan tetap  ada selamanya.

d.      Mukhalafatuhu li al-hawadisi (Berbeda dengan makhluk ciptaannya)

Allah sudah pasti berbeda dengan ciptaanya. Dialah dzat yang Maha Sempurna dan Maha Besar. Tidak ada sesuatupun yang mampu menandingi dan menyerupai keagungan-Nya.

e.       Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri)

Maksudnya Allah itu berdiri sendiri, tidak bergantung pada apapun dan tidak membutuhkan bantuan siapapun.

f.        Wahdaniyah (Tunggal/ Esa)

Allah maha Esa atau Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah satu-satunya Tuhan pencipta alam semesta. Ayat yang menjelaskan dalam al-Qur’an:

g.      Qudrat (Berkuasa)

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah Swt.

h.      Iradat (Berkehendak)

Apabila Allah berkehendak, maka jadilah hal itu dan tidak ada seorangpun yang mampu mencegah-Nya 

i.        ‘Ilmu (Mengetahui)

Allah Swt. Maha Mengetahui atas segala sesuatu, baik yang tampak atau tidak tampak.

j.        Hayat (Hidup)

Allah Swt. adalah Maha Hidup, tidak akan pernah mati, binasa, ataupun musnah. Dia kekal selamanya. 

k.      Sama’ (Mendengar)

Allah Maha Mendengar baik yang diucapkan maupun yang disembunyikan dalam  hati.

l.        Basar (Melihat)

Allah melihat segala sesuatu. Penglihatan Allah tidak terbatas. Dia mengetahui  apapun yang terjadi di dunia ini.

m.    Kalam (Berfirman)

Allah itu berfirman. Dia bisa berbicara atau berkata secara sempurna tanpa bantuan dari apapun. Terbukti dari adanya firmanNya dari kitab-kitab yang diturunkan lewat para Nabi.

n.      Qadirun (Berkuasa) Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta.

o.      Muridun (Berkehendak)

Bila Allah sudah menakdirkan suatu perkara, maka tidak ada yang bisa menolak  kehendak-Nya.

p.      ‘Alimun (Mengetahui)

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Baik yang ditampakan maupun disembunyikan. Tidak ada yang bisa menandingi pengetahuan Allah Yang Maha Esa.

q.      Hayyan (hidup)

Allah adalah dzat yang hidup. Allah tidak akan mati, tidak akan tidur ataupun lengah.

r.        Sami’un (Mendengar)

Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan, ataupun doa hamba-Nya.

s.       Bashiran (Melihat)

Keadaan Allah yang melihat tiap-tiap yang maujud (benda yang ada). Allah selalu  melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.

t.        Mutakalliman (Berfirman atau berkata – kata)

Sama dengan Qalam, Mutakalliman juga berarti berfirman. Firman Allah terwujud  lewat kitab-kitab suci yang diturunkan lewat para Nabi.

Sifat-sifat wajib bagi Allah yang terdiri atas 20 sifat itu dikelompokkan menjadi 4 sebagai berikut.

a.       Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang hanya berhubungan dengan Dzat Allah. Sifat nafsiyah ini ada satu, yaitu wujud.

b.      Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang menghilangkan sifat-sifat yang tidak layak atau tidak sesuai dengan kesempurnaan Allah. yaitu: qidam, baqa’, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyat.

c.       Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Yang termasuk sifat ma’ani ada tujuh, yaitu; qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, basar, kalam.

d.      Sifat Ma’nawiyah, yaitu kelaziman dari sifat ma’ani. Dengan demikian itu sifat ma’nawiyah juga ada tujuh sebagaimana ma’ani, yaitu: kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu ‘aliman, kaunuhu hayyan, kaunuhu sami’an, kaunuhu bashiran, kaunuhu mutakalliman.

        3. Sifat Mustahil bagi Allah

Sifat mustahil ini adalah kebalikan dari sifat wajib. Maksudnya sifat yang tidak  mungkin dimiliki oleh Allah Azza wa jalla yang Maha Sempurna. Berikut sifat-sifat mustahil bagi Allah beserta artinya menurut dalil agama.

a.       Adam (Tiada)

Sifat mustahil yang pertama adalah Adam yang berarti tiada. Sifat ini kebalikan dari wujud yang artinya ada.

b.      Huduts (Ada yang mendahului)

Hudust berarti ada yang mendahului, merupakan lawan kata dari qidam. Tidak  mungkin ada yang mendahului keberadaan Allah Azza wa Jalla. Dialah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Tentunya Pencipta sudah pasti lebih dahulu dari apa-apa yang diciptakanNya.

c.       Fana  (Musnah)

Allah Swt. tidak mungkin musnah. Sebaliknya, Dia bersifat kekal selama-lamanya. Dijelaskan dalam Al-Quran:  

d.      Mumatsalatu lil hawaditsi  (Ada yang menyamai)

Allah SWT. adalah dzat yang menciptakan segala sesuatu di bumi dan alam semesta. Dialah yang Maha Agung. Tidak mungkin ada sesuatu yang menyamai atau menandingiNya.

e.       Ihtiyaju lighairihi  (Memerlukan yang lain)

Allah SWT. tidak memerlukan yang lain. Dia mampu mewujudkan dan mengatur  segalanya secara sempurna tanpa bergantung pada siapapun.

f.        Ta’adud  (Berbilang)

Ta’adud adalah kebalikan dari wahdaniyah yang berarti tunggal. Allah itu Maha Esa. Tidak mungkin berbilang atau berjumlah lebih dari satu. Allah SWT. tidak memiliki sekutu, tidak beranak dan tidak diperanakan. 

g.      Ajzun (Lemah)

Ajzun berarti lemah, merupakan lawan kata dari dari qudrat yang artinya berkuasa. Jadi Allah tidak mungkin bersifat lemah. Sebaliknya Allah Azza wa Jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa melampui kekuasaan Allah SWT..

h.      Karahah  (Terpaksa)

Allah tidak memiliki sifat terpaksa. Sebaliknya Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa melawan ataupun menandingi kehendak dari Allah SWT.

i.        Jahlun  (Bodoh)

Mustahil bagi Allah SWT. bersifat bodoh. Dia menciptakan alam semesta dengan  segala isinya begitu sempurna. Dia tidak membutuhkan bantuan siapapun. Dan dialah yang Maha Kaya lagi Maha Mengetahui.

j.        Mautun (Mati)

Allah tidak akan mati. Dia bersifat kekal. Terus-menerus mengurus makhluknya Tanpa tidur dan tidak letih sedikitpun. Dijelaskan dalam Al-Quran:

k.      Shamamun  (Tuli)

Mustahil Allah bersifat Tuli. Allah SWT. adalah Tuhan yang Maha Mendengar.  Pendengaran Allah meliputi segala sesuatu.

l.        Ama (Buta)

Allah SWT. juga tidak buta. Dia Maha Melihat Segala Sesuatu. Tak ada satu hal pun yang luput dari penglihatan-Nya.

m.    Bakamun (Bisu)

Allah SWT. tidaklah Bisu. Allah berkata dan berfirman dengan sangat sempurna. Tak ada bisa mengalahkan keindahan firman Allah SWT.

n.      ‘Ajizan  (Zat yang lemah)

Mustahil Allah bersifat lemah. Allah SWT. adalah pencipta alam semesta dan segala isinya. Dia Maha Kuasa atas semua hal.

o.      Karihan  (Zat yang terpaksa)

Allah SWT. bukanlah dzat yang terpaksa. Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Hanya berfirman “kun fa yakun” maka jadilah apa yang dikehendaki oleh Nya.

p.      Jahilan (Zat yang sangat bodoh)

Mustahil Allah adalah dzat yang bodoh. Allah Maha Mengetahui dan Melihat apa-apa yang ditampakkan atau disembunyikan.

q.      Mayyitan  (Zat yang mati)

Allah tidak mati. Allah bersifat kekal, tidak musnah dan tidak binasa. Dia tidak  pernah tidur. Selalu mengawasi hamba-hambaNya setiap saat.

r.        Ashamma (Zat yang tuli)

Mustahil Allah bersifat tuli. Allah adalah Tuhan yang Maha Mendengar. Pendengaran Allah tak terbatas dan meliputi segala sesuatu.

s.       A’ma  (Zat yang buta)

Allah Maha Melihat, tidaklah buta. Dia Maha Sempurna dengan seluruh  keagunganNya.

t.        Abkama (Zat yang bisu)

Allah bukanlah dzat yang bisu. Allah berfirman dan firmanNya tertuang dalam kitab-kitab suci yang diturunkan lewat para Nabi.

4        4. Sifat Jaiz Allah

    Pengertian sifat jaiz Allah adalah sifat yang mungkin (boleh) ada atau sifat yang mungkin                 (boleh) tidak ada pada Allah. Dalam kalimat lain, sifat jaiz ini adalah sifat yang bisa melekat pada           Allah dan bisa pula tidak melekat pada Allah. Sebab semua adalah berdasarkan kehendak-Nya,               maka Allah bisa melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.