A. Pengertian
Taubat
Secara bahasa taubat berasal dari bahasa Arab yang bermakna
kembali. Dia bertaubat, artinya dia kembali dari dosanya (berpaling dan menarik
diri dari dosa). Taubat adalah kembali kepada Allah Swt. dengan melepaskan hati
dari belenggu yang membuatnya terus menerus melakukan dosa lalu melaksanakan
semua hak Allah. Secara Syar’i, taubat adalah meninggalkan dosa karena
takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad
kuat untuk tidak mengulanginya dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki
kembali dari amalnya.
B. Hakikat Taubat
Hakikat taubat yaitu perasaan hati yang menyesali perbuatan
maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allah pada sisa usianya
serta menahan diri dari dosa. Melakukan amal shaleh dan meninggalkan larangan
adalah wujud nyata dari taubat. Mengucapkan istighfar merupakan wujud perbuatan
awal bertaubat. Taubat mencakup penyerahan diri seorang hamba kepada Rabbnya, inabah
(kembali) kepada Allah dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah. Sekadar
meninggalkan perbuatan dosa, namun tidak melaksanakan amalan yang dicintai
Allah ‘Azza wa Jalla, itu belum dianggap bertaubat. Seseorang dianggap
bertaubat jika ia kembali kepada Allah Swt. dan melepaskan diri dari belenggu
yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa. Tanamkan makna taubat dalam hati
sebelum diucapkan secara lisan. Senantiasa mengingat apa yang disebutkan Allah ‘Azza
wa Jalla berupa keterangan terperinci tentang surga yang dijanjikan bagi orang-orang
yang taat dan mengingat siksa neraka yang diancamkan bagi pendosa. Berusaha
terus melakukan itu agar rasa takut dan optimisme kepada Allah semakin menguat
dalam hati. Dengan demikian, ia
senantiasa berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan cemas agar Allah ‘Azza
wa Jalla berkenan menerima taubatnya, menghapuskan dosa dan kesalahannya.
C. Syarat-syarat Taubat
Taubat wajib dilakukan dengan segera, tidak boleh ditunda. Imam
Ibnul Qayyim ra. berkata: ”Sesungguhnya segera bertaubat kepada Allah Swt.
dari perbuatan dosa hukumnya adalah wajib dilakukan dengan segera dan tidak
boleh ditunda.” Imam Nawawi rahimahullah berkata,” Para ulama telah
sepakat, bahwa bertaubat dari seluruh perbuatan maksiat adalah wajib, wajib
dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda, apakah itu dosa kecil atau
dosa besar.” Namun dalam bertaubat, seseorang harus memenuhi beberapa
syarat. Adapun syarat-syarat taubat
secara terperinci sebagai berikut.
a.
Islam, karena orang yang kafir
tidak diampuni dosanya sebelum masuk Islam
b.
Menyesali dosanya
c.
Menyadari kesalahan (mengakui
dosanya)
d.
Ikhlas melakukannya, bukan
untuk tujuan riya’ atau kepentingan dunia
e.
Memohon ampun kepada Allah
dengan memperbanyak membaca istighfar
f.
Berjanji tidak akan mengulangi.
g.
Menutupi kesalahan dengan perbuatan yang terpuji (amal shalih)
h.
Masa taubat sebelum nafas
sampai di tenggorokan dan sebelum
matahari terbit dari sebelah barat
i.
Memperbanyak istighfar
sebagaimana Rasulullah tiap hari bertaubat dengan membaca istighfar seratus
kali dan rajin sholat taubat
j.
Jika perbuatan dosanya itu ada
hubungannya dengan orang lain
D. Kedudukan Taubat
Menurut Ibnul Qayyim, kedudukan taubat adalah kedudukan yang
pertama, pertengahan, dan terakhir. Hamba yang meniti jalan menuju Rabbnya
tidak akan menjauhinya (jalan tersebut) dan selalu menetapinya sampai mati.
Jadi, taubat adalah langkah awal dan langkah akhir seorang hamba. Kebutuhan
dirinya terhadap taubat diakhir perjalanan sangatlah diperlukan, sebagaimana
halnya kebutuhannya di awal perjalanan juga sangat besar. Bagi orang mukmin,
taubat itu hukumnya wajib. Dalil al-Qur’an dan as-Sunah saling mendukung atas
wajibnya melakukan taubat dan kedudukannya dalam mewujudkan kesalehan dan
kejayaan hamba di dunia dan di akhirat.
Taubat yang sesungguhnya itu adalah taubat nasuha,
sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, ”Taubat yang tulus lagi mantab itu
adalah taubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh), yang menghapuskan
keburukan-keburukan sebelumnya dan mencegah keburukan yang mendatang.”
Taubat nasuha adalah meninggalkan dosa sekarang dan menyesali dosa yang
telah dilakukan serta tidak mengulangi lagi di masa mendatang. Allah membagi
hambanya menjadi hamba yang bertaubat dan hamba yang menzalimi. Maka
barang siapa tidak bertaubat, berarti ia layak menjadi orang yang zalim
karena kebodohannya terhadap Rabb dan hak-Nya, serta karena kekurangan diri dan
cacat
E. Keutamaan
Taubat
Orang yang benar-benar bahagia adalah yang menjadikan taubat
sebagai sahabat dekat dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat.
Sedangkan orang yang binasa adalah yang menelantarkan dan mencampakkan taubat
di belakang punggungnya. Beberapa keutamaan taubat adalah sebagai berikut.
a. Taubat
adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah.
b. Taubat
merupakan sebab keberuntungan
c. Taubat
menjadi sebab-sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas
kesalahan-kesalahannya
d. Taubat
merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari api neraka
e. Taubat
adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat
f.
Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai
kebaikan
g. Taubat
menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan
h. Taubat
adalah untuk menggapai keimanan dan pahala yang besar
i.
Taubat merupakan sebab turunnya berkah dari atas langit serta
bertambahnya kekuatan
j.
Menjadi sebab malaikat mendoakan orang-orang yang bertaubat
k.
Allah akan menghapuskan dosa-dosanya, seolah-olah tidak berdosa.
l.
Menjadi sebab hati menjadi bersinar dan bercahaya.
m.
Taubat akan memotivasi seseorang untuk amar ma’ruf nahi mungkar,
beramal saleh, hidup jujur, disiplin dan bertanggung jawab.
0 comments:
Posting Komentar