Selasa, 18 Oktober 2022

Akidah Akhlak Kelas X Materi Ayo Menghindari Sifat Tercela

        Hubb al-dunya

1.      Dalil Naqli

Hubb al-dunya merupakan akhlak tercela yang harus dihindari,sebagaimana firman Allah:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbanggabanggaan tentang banyaknya harta dan anak”(QS. al-Hadid [57]:20)

2.      Pengertian Hubb al-dunya

Hubb al-dunya adalah cinta dunia yang berlebihan.  Hubb al-dunya adalah sumber kehancuran umat. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan dan mengurangi keimanan seseorang. Yang dimaksud hubb al-dunya di sini adalah mencintai dunia dengan melupakan kehidupan akhirat. Maksud dunia disini adalah segala sesuatu yang kurang bermanfaat di akhirat.

3.      Penyebab Hubb al-dunya

a.       Menganggap dunia sebagai tujuan utama, bukan sebagai sarana mencapai kehidupan akhirat.

b.      Suka mengumpulkan harta dengan menghalalkan berbagai macam cara.

c.       Kikir terhadap harta, tidak rela hartanya terlepas dari dirinya.

d.      Serakah dan rakus serta tamak. Selalu ingin mengumpulkan harta walaupun sudah memiliki.

e.       Tidak mau mensyukuri nikmat Allah.

4.      Dampak Negatif

Ketika seorang muslim sudah menjadikan dunia ini  sebagai tujuan utamanya, maka itu alamat dia telah terjebak dalam hubb al-dunya. Padahal, dalam prinsip akidah, dunia ini bukanlah tujuan. Melainkan hanya alat untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak. Maka mereka yang hubb al-dunya akan memperoleh dampak negatif sebagai berikut.

a.       Cinta dunia akan membuat mereka lupa kepada Allah.

b.      Mereka yang begitu mencintai dunia akan mudah tergoyah imannya.

c.       Sebagai sumber penyakit, cinta dunia sering mengakibatkan seseorang cinta  terhadap hartanya dan di dalam harta terdapat banyak penyakit, antara lain tamak, rakus, pamer, dengki  dan lain-lain.

d.      Menghalalkan segala cara demi memperoleh kesenangan dunianya.

e.       Membuat seseorang tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya di akhirat

5.      Cara Menghindari

Betapa bahayanya hubb al-dunya baik bagi diri sendiri ataupun orang lain, maka kita harus berusaha menghindarinya dengan cara :

a.       Mengingat bahwa kehidupan dunia itu hanya sementara. Islam tidak memerintahkan umatnya meninggalkan dunia, tetapi diperintahkan untuk menaklukkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya.

b.      Memperbanyak mengingat kematian.

c.       Qana’ah yaitu merasa cukup terhadap yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas terhadap harta.

d.      Mengingat bahwa apa yang kita lakukan di dunia akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat.

        Hasad

1.      Dalil Naqli

Allah berfirman:

اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ ࣖ

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. ali- Imran [3]: 120)

2.      Pengertian

Hasad adalah penyakit hati ketika seseorang Cinta harta dan gila jabatan dapat menimbulkan hasad merasa tidak senang jika orang lain menerima karunia dari Allah. Hasad secara bahasa berarti dengki atau benci. Menurut istilah hasad adalah membenci nikmat Allah Swt. yang dianugerahkan kepada orang lain, serta menginginkan agar nikmat tersebut segera hilang atau terhapus dari orang lain.  Nikmat yang dikaruniakan oleh Allah Swt. kepada hamba-Nya tidak sama. Ada manusia yang dikaruniai nikmat berupa harta benda, ada yang dikaruniai nikmat berupa anak, kecerdasan, kecantikan, dan lain sebagainya. Akan tetapi manusia yang mempunyai perilaku hasad merasa tidak senang jika orang lain menerima karunia-Nya.

 

3.      Sebab-sebab

Ada dua sebab utama yang membuat seseorang berlaku hasad, yang pertama adanya rasa permusuhan dan kebencian kepada seseorang. Yang kedua adanya sifat takabur atau sombong yakni merasa diri sendiri yang paling baik, paling benar atau paling hebat.  Dari sifat dan sikap seperti ini seseorang tidak suka terhadap keberhasilan dan kemajuan yang dicapai orang lain.

4.      Dampak Negatif Hasad

Dampak negatif  perilaku hasad sebagai berikut.

a.       Menghanguskan amal kebaikan. Hasad dapat membakar amal kebaikan bagaikan api membakar kayu bakar. Semua amal baik membutuhkan perjuangan keras, sangat disayangkan bila amal baik itu hanya lenyap dalam sekejap oleh perilaku hasad. Ibarat “Panas setahun terhapus dengan hujan sehari.” Sekali berbuat hasad, amal kebaikan yang telah dikumpulkan bertahun-tahun pun lenyap tidak berbekas.

b.      Merasa senang jika orang lain tertimpa musibah

c.       Memutus tali silaturahmi

d.      Hilangnya ketenangan dan  kebahagiaan

e.       Tidak dapat menyempurnakan iman

5.      Cara Menghindari Perilaku Hasad

a.       Memperbanyak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.

b.      Menanamkan kesadaran bahwa sifat hasad akan membawa seseorang menderita batin

c.       Berfikir positif atas segala kejadian yang menimpa kita

d.      Menumbuhkan kesadaran bahwa akibat dari sifat dengki itu adalah permusuhan yang akan membawa kepada petaka .

e.       Memelihara sikap rendah hati, tidak sombong atau membanggakan diri, dan meyakini bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah Swt. Sehingga kita tidak perlu merasa tersaingi apabila orang lain mendapatkan suatu kenikmatan dari Allah.

f.        Saling mengingatkan dan saling menasehati

g.      Bersikap realistis melihat kenyataan

h.      Mempunyai pendirian dan tidak mudah terprovokasi

i.        Senantiasa ingat pada Allah dan meminta perlindunngan kepada-Nya agar  terhindar dari sifat hasad.

         Ujub

1.      Dalil Naqli

Rasulullah Saw. bersabda :

Tiga perkara yang membawa kepada kehancuran: pelit, mengikuti hawa nafsu, dan suka membanggakan diri. “(HR. ath-Thabari, hadits Hasan).

2.      Pengertian Ujub

Secara bahasa (etimologi), ’Ujub, berasal dari  kata ’ajaba yang artinya kagum, terheran-heran, takjub. Al-I’jabu bi al-Nafs berarti kagum pada diri sendiri. Yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.

Secara istilah dapat kita pahami bahwa ’ujub yaitu suatu sikap membanggakan diri, dengan memberikan satu penghargaan yang terlalu berlebihan kepada kemampuan diri. Imam Ghazali menuturkan, “Perasaan ’ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaan kepada Allah.” Memang setiap orang mempunyai kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain, tetapi milik siapakah semua kelebihan itu?. Dengan demikian hakikat ujub adalah membanggakan diri atas kenikmatan yang ia dapati dengan melupakan bahwa itu adalah pemberian dari Allah.

3.      Sebab-sebab

Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya sifat ujub adalah sebagai berikut:

a.       Banyak dipuji orang. Pujian seseorang secara langsung kepada orang lain, dapat  menimbulkan perasaan ’ujub dan egois pada diri orang yang dipujinya.

b.      Banyak meraih kesuksesan. Seseorang yang selalu sukses dalam meraih cita-cita dan usahanya akan mudah memiliki perasaan ujub.

c.       Kekuasaan. Setiap penguasa biasanya mempunyai kebebasan bertindak tanpa ada protes dari orang di sekelilingnya, dan banyak orang yang kagum dan memujinya.

d.      Mempunyai intelektual dan kecerdasan yang tinggi

e.       Memiliki kesempurnaan fisik,  orang yang cantik, postur tubuh ideal, tampan dan ia memandang kelebihan yang ada pada dirinya, serta lupa akan keberadaannya sebagai manusia maka akan lebih cenderung kepada sifat ujub.

4.      Dampak Negatif

a.       Ujub akan membawa ke arah kesombongan (kibar), karena ujub merupakan salah satu sebab timbulnya kesombongan dan hal itu memberikan pengaruh negatif yang lebih banyak.

b.      Meremehkan dosa dihadapan Allah, karena merasa ibadahnya sudah sempurna.

c.       Melupakan nikmat atas pemberian dari Allah Swt. karena merasa bahwa keberhasilannya itu merupakan hasil usahanya sendiri bukan pemberian Allah

d.      Tidak takut azab dan kemurkaan Allah karena ia meyakini bahwa ia telah  mendapat kedudukan mulia di sisi Allah.

e.       Menggugurkan pahala, karena Allah tidak akan menerima amalan kebajikan sedikitpun kecuali dengan ikhlas karena-Nya.

f.        Enggan bermusyawarah dan berdiskusi dengan yang lain, juga enggan bertanya mengenai hal yang tidak diketahui. Ia lebih senang pada pendapatnya sendiri.

g.      Hilangnya rasa saling menghormati, lenyapnya rasa simpati orang kepadanya dan menanamkan kebencian.

h.      Enggan menerima nasihat orang lain karena menganggap orang lain lebih bodoh.

5.      Cara Menghindari

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh setiap muslim agar dirinya terhindar dari penyakit ’ujub diantaranya adalah sebagai berikut.

a.       Selalu mengingat akan hakikat dirinya, nyawa yang ada dalam tubuhnya semata-mata anugerah dari Allah. Andaikata Allah tiba-tiba mengambilnya, maka badannya tidak  ada harganya sama sekali.

b.      Sadar  akan hakikat dunia dan akhirat. Dunia adalah tempat menanam amal shaleh untuk kebahagiaan di akhirat.

c.       Menyadari bahwa sesungguhnya nikmat itu pemberian dari Allah, bukan sematamata hasil usahanya.Ilmu, harta, Kesehatan semua itu hanyalah titipan dari Allah

d.      Selalu ingat akan kematian dan kehidupan setelah mati

e.       Berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sifat Ujub.

f.        Berusaha mau bekerja sama dan hidup saling menghargai

        Sombong

1.      Dalil Naqli

Perbuatan sombong adalah perbuatan yang tercela dan sangat dibenci oleh Allah. Allah berfirman:

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alas an yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.”(QS. alA’raf [7]: 146)

2.      Pengertian Sombong (Takabur)

Sombong (takabur) artinya adalah membanggakan diri sendiri. ”Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR. Muslim). Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin dalam bukunya, ”Halal Haram dalam Islam”, mencontohkan beberapa sikap sombong, diantaranya membantah guru, memperpanjang pembicaraan, serta menunjukkan adab buruk kepadanya. Bentuk kesombongan lain adalah menganggap rendah orang yang telah memberikan masukan kepadanya hanya karena dia berasal dari kalangan yang lebih rendah darinya. Sombong itu merupakan anak dari ujub, akar dari sombong itu adalah ujub. Jadi, ujub itu melahirkan sombong. Terdapat perbedaan antara ujub dengan sombong. Adapun Ujub tidak memerlukan orang lain, sedangkan sombong membutuhkan orang lain sebagai pembandingnya. Islam melarang dan mencela sikap sombong.

3.      Sebab-sebab

a.       Merasa apa yang diucapkan benar, sehingga menganggap orang lain salah

b.      Gila pujian, jika mengetahui banyak orang memujinya, ia girang bukan main dan bertambah keangkuhannya.

c.       Merasa banyak ilmu, banyak harta, namun lebih fatalnya, ada orang tidak kaya tetapi dia bersikap sombong.

d.      Amal dan ibadah, ia merasa hidupnya selamat sampai di akhirat sedangkan orang lain dianggap tidak selamat.

e.       Karena nasab (garis keturunan) dan kelebihan fisik yang dimiliki

4.      Dampak Negatif

a.       Menjadi penghalang masuk surga, karena tidak memiliki akhlak seorang mukmin. Akhak mukmin adalah pintu surga dan kesombongan penutup pintu surga.

b.      Mendapatkan hukuman di dunia karena kesombongannya.

c.       Membuat orang lain membenci perilakunya

5.      Cara Menghindari

a.       Meningkatkan ibadah kepada Allah

b.      Meningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah

c.       Menyadari dosa yang akan menimpa pada orang sombong

d.      Mengganti dengan berperilaku tawadu’

e.       Ikhlas dalam melakukan perbuatan

f.        Menyadari segala kekurangan sebagai manusia

g.      Menyadari bahwa hidup ini hanya sementara

        Riya’

1.      Dalil Naqli

Allah berfirman : َ 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia.” (QS. al-Baqarah [2]: 264).

2.      Pengertian

Pengertian riya’ menurut bahasa berasal dari kata al-Riya’u (  ءايرلا) yang artinya menampakkan. Yaitu memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia. Secara istilah riya’  adalah melakukan  ibadah untuk mendapatkan pujian dari orang lain, bukan karena Allah semata. Menurut Imam Ghazali  riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapatkan pujian atau penghargaan. Salah satu sifat yang erat kaitannya dengan riya’ adalah sum’ah yaitu suka memperdengarkan atau menceritakan kebaikannya kepada orang lain.

3.      Sebab-sebab

a.       Terlalu dikagumi orang lain

b.      Lari dari celaan

c.       Rakus akan apa yang diperoleh/ terdapat pada orang lain

d.      Ambisi mendapatkan kedudukan atau kepemimpinan

e.       Senang karena lezatnya pujian orang lain

f.        Lalai akan dampak buruk riya’

4.      Dampak Negatif

a.       Riya’ lebih berbahaya dari pada fitnah Dajjal

b.      Nilai amal saleh hilang.

c.       Riya’ adalah syirik khofi (tersembunyi)

d.      Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.

e.       Akan merasa hampa dan kecewa apabila perhatian dan pujian yang ia harapkan  ternyata tidak didapatnya.

f.        Terkena penyakit rohani berupa gila pujian atau gila hormat

g.      Bisa menimbulkan pertengkaran bila ia mengungkit-ungkit kebaikannya pada orang lain.

h.      Lebih sangat merusak dari pada serigala menyergap domba

i.        Menjadi sebab azab di neraka

j.        Menambah kesesatan seseorang

5.      Cara Menghindari

Penyakit riya’ jangan dibiarkan terus menerus merusak jiwa kita. Kita harus berupaya untuk menghindarinya dengan cara sebagai berikut.

a.       Memperbaiki niat ibadah semata-mata karena Allah

b.      Menghindari sikap suka memamerkan perbuatan baik

c.       Bersyukur atas nikmat yang telah diberikan

d.      Meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah

e.       Mengingat bahaya  perilaku riya’

f.        Berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sifat riya’

g.      Hidup sederhana


0 comments:

Posting Komentar