Hubb al-dunya
1.
Dalil Naqli
Hubb al-dunya merupakan akhlak tercela
yang harus dihindari,sebagaimana firman Allah:
اِعْلَمُوْٓا
اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ
بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
”Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbanggabanggaan tentang
banyaknya harta dan anak”(QS. al-Hadid [57]:20)
2.
Pengertian Hubb al-dunya
Hubb al-dunya adalah cinta dunia yang
berlebihan. Hubb al-dunya adalah sumber
kehancuran umat. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan dan mengurangi
keimanan seseorang. Yang dimaksud hubb al-dunya di sini adalah mencintai
dunia dengan melupakan kehidupan akhirat. Maksud dunia disini adalah segala
sesuatu yang kurang bermanfaat di akhirat.
3.
Penyebab Hubb al-dunya
a. Menganggap dunia sebagai tujuan utama, bukan sebagai sarana
mencapai kehidupan akhirat.
b. Suka mengumpulkan harta dengan menghalalkan berbagai macam cara.
c. Kikir terhadap harta, tidak rela hartanya terlepas dari dirinya.
d. Serakah dan rakus serta tamak. Selalu ingin mengumpulkan harta
walaupun sudah memiliki.
e. Tidak mau mensyukuri nikmat Allah.
4.
Dampak Negatif
Ketika seorang muslim sudah menjadikan dunia ini sebagai tujuan utamanya, maka itu alamat dia
telah terjebak dalam hubb al-dunya. Padahal, dalam prinsip akidah, dunia
ini bukanlah tujuan. Melainkan hanya alat untuk mencapai kebahagiaan di akhirat
kelak. Maka mereka yang hubb al-dunya akan memperoleh dampak negatif
sebagai berikut.
a. Cinta dunia akan membuat mereka lupa kepada Allah.
b. Mereka yang begitu mencintai dunia akan mudah tergoyah imannya.
c. Sebagai sumber penyakit, cinta dunia sering mengakibatkan
seseorang cinta terhadap hartanya dan di
dalam harta terdapat banyak penyakit, antara lain tamak, rakus, pamer,
dengki dan lain-lain.
d. Menghalalkan segala cara demi memperoleh kesenangan dunianya.
e. Membuat seseorang tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya
di akhirat
5.
Cara Menghindari
Betapa bahayanya hubb al-dunya baik bagi diri sendiri
ataupun orang lain, maka kita harus berusaha menghindarinya dengan cara :
a. Mengingat bahwa kehidupan dunia itu hanya sementara. Islam tidak memerintahkan
umatnya meninggalkan dunia, tetapi diperintahkan untuk menaklukkan dunia dalam
genggamannya, bukan dalam hatinya.
b. Memperbanyak mengingat kematian.
c. Qana’ah yaitu merasa cukup terhadap
yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas terhadap harta.
d. Mengingat bahwa apa yang kita lakukan di dunia akan dimintai
pertanggung jawaban di akhirat.
Hasad
1.
Dalil Naqli
Allah berfirman:
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ
وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا
وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا
يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ ࣖ
“Jika kamu
memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat
bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. ali-
Imran [3]: 120)
2.
Pengertian
Hasad adalah penyakit hati ketika
seseorang Cinta harta dan gila jabatan dapat menimbulkan hasad merasa tidak
senang jika orang lain menerima karunia dari Allah. Hasad secara bahasa
berarti dengki atau benci. Menurut istilah hasad adalah membenci nikmat
Allah Swt. yang dianugerahkan kepada orang lain, serta menginginkan agar nikmat
tersebut segera hilang atau terhapus dari orang lain. Nikmat yang dikaruniakan oleh Allah Swt.
kepada hamba-Nya tidak sama. Ada manusia yang dikaruniai nikmat berupa harta
benda, ada yang dikaruniai nikmat berupa anak, kecerdasan, kecantikan, dan lain
sebagainya. Akan tetapi manusia yang mempunyai perilaku hasad merasa
tidak senang jika orang lain menerima karunia-Nya.
3.
Sebab-sebab
Ada dua sebab utama yang membuat seseorang berlaku hasad,
yang pertama adanya rasa permusuhan dan kebencian kepada seseorang. Yang kedua
adanya sifat takabur atau sombong yakni merasa diri sendiri yang paling
baik, paling benar atau paling hebat.
Dari sifat dan sikap seperti ini seseorang tidak suka terhadap
keberhasilan dan kemajuan yang dicapai orang lain.
4.
Dampak Negatif Hasad
Dampak negatif perilaku hasad
sebagai berikut.
a. Menghanguskan amal kebaikan. Hasad dapat membakar amal
kebaikan bagaikan api membakar kayu bakar. Semua amal baik membutuhkan
perjuangan keras, sangat disayangkan bila amal baik itu hanya lenyap dalam
sekejap oleh perilaku hasad. Ibarat “Panas setahun terhapus dengan
hujan sehari.” Sekali berbuat hasad, amal kebaikan yang telah dikumpulkan
bertahun-tahun pun lenyap tidak berbekas.
b. Merasa senang jika orang lain tertimpa musibah
c. Memutus tali silaturahmi
d. Hilangnya ketenangan dan
kebahagiaan
e. Tidak dapat menyempurnakan iman
5.
Cara Menghindari Perilaku Hasad
a. Memperbanyak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.
b. Menanamkan kesadaran bahwa sifat hasad akan membawa
seseorang menderita batin
c. Berfikir positif atas segala kejadian yang menimpa kita
d. Menumbuhkan kesadaran bahwa akibat dari sifat dengki itu adalah
permusuhan yang akan membawa kepada petaka .
e. Memelihara sikap rendah hati, tidak sombong atau membanggakan
diri, dan meyakini bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah Swt. Sehingga
kita tidak perlu merasa tersaingi apabila orang lain mendapatkan suatu kenikmatan
dari Allah.
f.
Saling mengingatkan dan saling
menasehati
g. Bersikap realistis melihat kenyataan
h. Mempunyai pendirian dan tidak mudah terprovokasi
i.
Senantiasa ingat pada Allah
dan meminta perlindunngan kepada-Nya agar terhindar dari sifat hasad.
Ujub
1. Dalil Naqli
Rasulullah Saw. bersabda :
“Tiga perkara yang membawa kepada kehancuran: pelit, mengikuti
hawa nafsu, dan suka membanggakan diri. “(HR. ath-Thabari, hadits Hasan).
2.
Pengertian Ujub
Secara bahasa (etimologi), ’Ujub, berasal dari kata ’ajaba yang artinya kagum,
terheran-heran, takjub. Al-I’jabu bi al-Nafs berarti kagum pada diri
sendiri. Yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu
yang tidak dimiliki orang lain.
Secara istilah dapat kita pahami bahwa ’ujub yaitu suatu
sikap membanggakan diri, dengan memberikan satu penghargaan yang terlalu
berlebihan kepada kemampuan diri. Imam Ghazali menuturkan, “Perasaan ’ujub
adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri,
tanpa mengembalikan keutamaan kepada Allah.” Memang setiap orang mempunyai
kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain, tetapi milik siapakah semua
kelebihan itu?. Dengan demikian hakikat ujub adalah membanggakan diri
atas kenikmatan yang ia dapati dengan melupakan bahwa itu adalah pemberian dari
Allah.
3. Sebab-sebab
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya sifat ujub adalah
sebagai berikut:
a. Banyak dipuji orang. Pujian seseorang secara langsung kepada orang
lain, dapat menimbulkan perasaan ’ujub
dan egois pada diri orang yang dipujinya.
b. Banyak meraih kesuksesan. Seseorang yang selalu sukses dalam
meraih cita-cita dan usahanya akan mudah memiliki perasaan ujub.
c. Kekuasaan. Setiap penguasa biasanya mempunyai kebebasan bertindak
tanpa ada protes dari orang di sekelilingnya, dan banyak orang yang kagum dan
memujinya.
d. Mempunyai intelektual dan kecerdasan yang tinggi
e. Memiliki kesempurnaan fisik, orang yang cantik, postur tubuh ideal, tampan dan ia memandang kelebihan yang ada pada dirinya, serta lupa akan keberadaannya sebagai manusia maka akan lebih cenderung kepada sifat ujub.
4. Dampak Negatif
a.
Ujub akan membawa ke arah kesombongan (kibar), karena ujub
merupakan salah satu sebab timbulnya kesombongan dan hal itu memberikan
pengaruh negatif yang lebih banyak.
b.
Meremehkan dosa dihadapan
Allah, karena merasa ibadahnya sudah sempurna.
c.
Melupakan nikmat atas
pemberian dari Allah Swt. karena merasa bahwa keberhasilannya itu merupakan
hasil usahanya sendiri bukan pemberian Allah
d.
Tidak takut azab dan kemurkaan
Allah karena ia meyakini bahwa ia telah mendapat
kedudukan mulia di sisi Allah.
e.
Menggugurkan pahala, karena
Allah tidak akan menerima amalan kebajikan sedikitpun kecuali dengan ikhlas
karena-Nya.
f.
Enggan bermusyawarah dan
berdiskusi dengan yang lain, juga enggan bertanya mengenai hal yang tidak
diketahui. Ia lebih senang pada pendapatnya sendiri.
g.
Hilangnya rasa saling
menghormati, lenyapnya rasa simpati orang kepadanya dan menanamkan kebencian.
h.
Enggan menerima nasihat orang
lain karena menganggap orang lain lebih bodoh.
5.
Cara Menghindari
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh setiap muslim agar
dirinya terhindar dari penyakit ’ujub diantaranya adalah sebagai
berikut.
a. Selalu mengingat akan hakikat dirinya, nyawa yang ada dalam
tubuhnya semata-mata anugerah dari Allah. Andaikata Allah tiba-tiba
mengambilnya, maka badannya tidak ada
harganya sama sekali.
b. Sadar akan hakikat dunia
dan akhirat. Dunia adalah tempat menanam amal shaleh untuk kebahagiaan di
akhirat.
c. Menyadari bahwa sesungguhnya nikmat itu pemberian dari Allah,
bukan sematamata hasil usahanya.Ilmu, harta, Kesehatan semua itu hanyalah
titipan dari Allah
d. Selalu ingat akan kematian dan kehidupan setelah mati
e. Berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sifat Ujub.
f. Berusaha mau bekerja sama dan hidup saling menghargai
Sombong
1.
Dalil Naqli
Perbuatan sombong adalah perbuatan yang tercela dan sangat dibenci
oleh Allah. Allah berfirman:
سَاَصْرِفُ
عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di
muka bumi tanpa alas an yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.”(QS.
alA’raf [7]: 146)
2.
Pengertian Sombong (Takabur)
Sombong (takabur) artinya adalah membanggakan diri sendiri.
”Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR.
Muslim). Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin dalam bukunya, ”Halal Haram dalam
Islam”, mencontohkan beberapa sikap sombong, diantaranya membantah guru,
memperpanjang pembicaraan, serta menunjukkan adab buruk kepadanya. Bentuk kesombongan
lain adalah menganggap rendah orang yang telah memberikan masukan kepadanya
hanya karena dia berasal dari kalangan yang lebih rendah darinya. Sombong itu
merupakan anak dari ujub, akar dari sombong itu adalah ujub.
Jadi, ujub itu melahirkan sombong. Terdapat perbedaan antara ujub
dengan sombong. Adapun Ujub tidak memerlukan orang lain, sedangkan
sombong membutuhkan orang lain sebagai pembandingnya. Islam melarang dan
mencela sikap sombong.
3.
Sebab-sebab
a.
Merasa apa yang diucapkan
benar, sehingga menganggap orang lain salah
b.
Gila pujian, jika mengetahui
banyak orang memujinya, ia girang bukan main dan bertambah keangkuhannya.
c.
Merasa banyak ilmu, banyak
harta, namun lebih fatalnya, ada orang tidak kaya tetapi dia bersikap sombong.
d.
Amal dan ibadah, ia merasa
hidupnya selamat sampai di akhirat sedangkan orang lain dianggap tidak selamat.
e.
Karena nasab (garis keturunan)
dan kelebihan fisik yang dimiliki
4.
Dampak Negatif
a.
Menjadi penghalang masuk
surga, karena tidak memiliki akhlak seorang mukmin. Akhak mukmin adalah pintu
surga dan kesombongan penutup pintu surga.
b.
Mendapatkan hukuman di dunia
karena kesombongannya.
c.
Membuat orang lain membenci
perilakunya
5.
Cara Menghindari
a.
Meningkatkan ibadah kepada
Allah
b.
Meningkatan keimanan dan
ketakwaan kepada Allah
c.
Menyadari dosa yang akan
menimpa pada orang sombong
d.
Mengganti dengan berperilaku tawadu’
e.
Ikhlas dalam melakukan perbuatan
f.
Menyadari segala kekurangan
sebagai manusia
g.
Menyadari bahwa hidup ini
hanya sementara
Riya’
1.
Dalil Naqli
Allah berfirman : َ
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ
كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan
(pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia.” (QS. al-Baqarah [2]: 264).
2.
Pengertian
Pengertian riya’ menurut bahasa berasal dari kata al-Riya’u
( ءايرلا) yang artinya menampakkan.
Yaitu memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia. Secara istilah riya’ adalah melakukan ibadah untuk mendapatkan pujian dari orang
lain, bukan karena Allah semata. Menurut Imam Ghazali riya’ adalah mencari kedudukan pada
hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan
karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara memperlihatkan
amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapatkan pujian atau penghargaan.
Salah satu sifat yang erat kaitannya dengan riya’ adalah sum’ah
yaitu suka memperdengarkan atau menceritakan kebaikannya kepada orang lain.
3.
Sebab-sebab
a.
Terlalu dikagumi orang lain
b.
Lari dari celaan
c.
Rakus akan apa yang diperoleh/
terdapat pada orang lain
d.
Ambisi mendapatkan kedudukan
atau kepemimpinan
e.
Senang karena lezatnya pujian
orang lain
f.
Lalai akan dampak buruk riya’
4.
Dampak Negatif
a.
Riya’ lebih berbahaya dari pada fitnah Dajjal
b.
Nilai amal saleh hilang.
c.
Riya’ adalah syirik khofi (tersembunyi)
d.
Mereka ini tidak mendapat
manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di
akhirat.
e.
Akan merasa hampa dan kecewa
apabila perhatian dan pujian yang ia harapkan ternyata tidak didapatnya.
f.
Terkena penyakit rohani berupa
gila pujian atau gila hormat
g.
Bisa menimbulkan pertengkaran
bila ia mengungkit-ungkit kebaikannya pada orang lain.
h.
Lebih sangat merusak dari pada
serigala menyergap domba
i.
Menjadi sebab azab di neraka
j.
Menambah kesesatan seseorang
5.
Cara Menghindari
Penyakit riya’ jangan dibiarkan terus menerus merusak jiwa
kita. Kita harus berupaya untuk menghindarinya dengan cara sebagai berikut.
a. Memperbaiki niat ibadah semata-mata karena Allah
b. Menghindari sikap suka memamerkan perbuatan baik
c. Bersyukur atas nikmat yang telah diberikan
d. Meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah
e. Mengingat bahaya perilaku riya’
f.
Berdoa kepada Allah agar
dijauhkan dari sifat riya’
g. Hidup sederhana
0 comments:
Posting Komentar