1. Pengertian
Sifat Wajib dan Sifat Jaiz Allah
Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna dan yang Maha Agung. Nama
Allah juga disebut اسم
الجلالة Dzat-Nya adalah tunggal, tidak
terdiri dari unsur-unsur dan bagian-bagian dan tidak ada suatu apa pun yang
serupa dengan-Nya. Dan karena itu manusia dilarang berpikir tentang Dzat Allah
karena tidak dapat mengetahuinya. Manusia dipanggil untuk menggunakan akalnya
bagi memikirkan alam ini dan segala isinya, tidak untuk memikirkan Dzat Allah
yang gaib itu dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Beriman kepada Allah
berarti manusia wajib beriktikad dengan penuh yakin akan sifat-sifat yang
wajib, sifat-sifat yang mustahil dan sifat-sifat yang jaiz. Sifat wajib Allah adalah
sifat-sifat yang khusus yang hanya dimiliki oleh Allah, dan tidak ada satupun makhluk
yang memiliki sifat tersebut. Adanya Allah ini,
menjadi salah satu sifat yang melekat pada sifat wajib Allah. Sifat
wajib Allah inilah yang membedakan Allah sebagai sang Pencipta (Khalik),
dengan semua makhluk ciptaan-Nya. Sifat mustahil Allah adalah sifat yang tidak
mungkin dimiliki oleh Allah Azza wa Jalla Yang Maha Sempurna. Sedangkan
sifat jaiz Allah adalah adalah sifat yang mungkin (boleh) ada atau sifat yang
mungkin (boleh) tidak ada pada Allah. Selanjutnya kita akan mengkaji dua sifat Allah,
yaitu sifat wajib dan sifat jaiz Allah.
2. Sifat
Wajib Allah
Dalam al-aqidah as-Sughra yang terkenal dengan judul Umm al-Barahain Imam as-Sanusi mengatakan ”Maka di antara sifat wajib bagi Allah Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Perkasa adalah 20 sifat.” Setiap mukalaf wajib meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah pasti bersifat dengan segala kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Berikut ini 20 sifat wajib bagi Allah.
a. Wujud (Ada)
Allah adalah Dzat yang pasti ada. Dia berdiri sendiri, tidak
diciptakan oleh siapapun, dan tidak ada Tuhan selain Allah SWT.
b. Qidam
(Terdahulu/Awal)
Dialah sang pencipta yang menciptakan alam semesta beserta isinya.
Maksudnya,Allah telah ada lebih dulu dari pada apa yang diciptakannya.
c. Baqa’
(Kekal)
Maksudnya
Allah maha kekal. Tidak akan punah, binasa, atau mati. Dia akan tetap ada selamanya.
d. Mukhalafatuhu
li al-hawadisi (Berbeda dengan makhluk ciptaannya)
Allah
sudah pasti berbeda dengan ciptaanya. Dialah dzat yang Maha Sempurna dan Maha
Besar. Tidak ada sesuatupun yang mampu menandingi dan menyerupai keagungan-Nya.
e. Qiyamuhu
Binafsihi (Berdiri sendiri)
Maksudnya
Allah itu berdiri sendiri, tidak bergantung pada apapun dan tidak membutuhkan
bantuan siapapun.
f.
Wahdaniyah
(Tunggal/ Esa)
Allah
maha Esa atau Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah satu-satunya Tuhan pencipta
alam semesta. Ayat yang menjelaskan dalam al-Qur’an:
g. Qudrat
(Berkuasa)
Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah
Swt.
h. Iradat
(Berkehendak)
Apabila Allah berkehendak, maka jadilah hal itu dan tidak ada seorangpun yang mampu mencegah-Nya
i.
‘Ilmu
(Mengetahui)
Allah
Swt. Maha Mengetahui atas segala sesuatu, baik yang tampak atau tidak tampak.
j.
Hayat (Hidup)
Allah
Swt. adalah Maha Hidup, tidak akan pernah mati, binasa, ataupun musnah. Dia kekal
selamanya.
k.
Sama’
(Mendengar)
Allah
Maha Mendengar baik yang diucapkan maupun yang disembunyikan dalam hati.
l.
Basar
(Melihat)
Allah
melihat segala sesuatu. Penglihatan Allah tidak terbatas. Dia mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini.
m.
Kalam (Berfirman)
Allah
itu berfirman. Dia bisa berbicara atau berkata secara sempurna tanpa bantuan dari
apapun. Terbukti dari adanya firmanNya dari kitab-kitab yang diturunkan lewat
para Nabi.
n.
Qadirun
(Berkuasa) Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta.
o.
Muridun (Berkehendak)
Bila
Allah sudah menakdirkan suatu perkara, maka tidak ada yang bisa menolak kehendak-Nya.
p.
‘Alimun
(Mengetahui)
Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. Baik yang ditampakan maupun disembunyikan.
Tidak ada yang bisa menandingi pengetahuan Allah Yang Maha Esa.
q.
Hayyan
(hidup)
Allah
adalah dzat yang hidup. Allah tidak akan mati, tidak akan tidur ataupun lengah.
r.
Sami’un
(Mendengar)
Allah
selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan, ataupun doa hamba-Nya.
s.
Bashiran
(Melihat)
Keadaan
Allah yang melihat tiap-tiap yang maujud (benda yang ada). Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu,
hendaknya kita selalu berbuat baik.
t.
Mutakalliman
(Berfirman atau berkata – kata)
Sama
dengan Qalam, Mutakalliman juga berarti berfirman. Firman Allah terwujud
lewat kitab-kitab suci yang diturunkan
lewat para Nabi.
Sifat-sifat wajib bagi Allah
yang terdiri atas 20 sifat itu dikelompokkan menjadi 4 sebagai berikut.
a.
Sifat Nafsiyah,
yaitu sifat yang hanya berhubungan dengan Dzat Allah. Sifat nafsiyah ini
ada satu, yaitu wujud.
b.
Sifat Salbiyah,
yaitu sifat yang menghilangkan sifat-sifat yang tidak layak atau tidak sesuai
dengan kesempurnaan Allah. yaitu: qidam, baqa’, mukhalafatu lil hawaditsi,
qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyat.
c.
Sifat Ma’ani, yaitu
sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Yang termasuk sifat ma’ani
ada tujuh, yaitu; qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, basar, kalam.
d.
Sifat Ma’nawiyah,
yaitu kelaziman dari sifat ma’ani. Dengan demikian itu sifat ma’nawiyah
juga ada tujuh sebagaimana ma’ani, yaitu: kaunuhu qadiran, kaunuhu
muridan, kaunuhu ‘aliman, kaunuhu hayyan, kaunuhu sami’an, kaunuhu bashiran,
kaunuhu mutakalliman.
3. Sifat
Mustahil bagi Allah
Sifat mustahil ini adalah kebalikan dari sifat wajib. Maksudnya
sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh
Allah Azza wa jalla yang Maha Sempurna. Berikut sifat-sifat mustahil bagi Allah
beserta artinya menurut dalil agama.
a.
Adam
(Tiada)
Sifat
mustahil yang pertama adalah Adam yang berarti tiada. Sifat ini kebalikan dari wujud
yang artinya ada.
b.
Huduts (Ada
yang mendahului)
Hudust
berarti ada yang mendahului, merupakan lawan kata dari qidam. Tidak mungkin ada yang mendahului keberadaan Allah
Azza wa Jalla. Dialah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Tentunya
Pencipta sudah pasti lebih dahulu dari apa-apa yang diciptakanNya.
c.
Fana (Musnah)
Allah
Swt. tidak mungkin musnah. Sebaliknya, Dia bersifat kekal selama-lamanya. Dijelaskan
dalam Al-Quran:
d.
Mumatsalatu lil hawaditsi (Ada yang menyamai)
Allah
SWT. adalah dzat yang menciptakan segala sesuatu di bumi dan alam semesta. Dialah
yang Maha Agung. Tidak mungkin ada sesuatu yang menyamai atau menandingiNya.
e.
Ihtiyaju lighairihi (Memerlukan yang lain)
Allah
SWT. tidak memerlukan yang lain. Dia mampu mewujudkan dan mengatur segalanya secara sempurna tanpa bergantung
pada siapapun.
f.
Ta’adud (Berbilang)
Ta’adud
adalah kebalikan dari wahdaniyah yang berarti tunggal. Allah itu Maha Esa. Tidak
mungkin berbilang atau berjumlah lebih dari satu. Allah SWT. tidak memiliki sekutu,
tidak beranak dan tidak diperanakan.
g.
Ajzun
(Lemah)
Ajzun
berarti lemah, merupakan lawan kata dari dari qudrat yang artinya berkuasa. Jadi
Allah tidak mungkin bersifat lemah. Sebaliknya Allah Azza wa Jalla Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Tidak ada yang bisa melampui kekuasaan Allah SWT..
h.
Karahah (Terpaksa)
Allah
tidak memiliki sifat terpaksa. Sebaliknya Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu.
Tidak ada yang bisa melawan ataupun menandingi kehendak dari Allah SWT.
i.
Jahlun (Bodoh)
Mustahil
bagi Allah SWT. bersifat bodoh. Dia menciptakan alam semesta dengan segala isinya begitu sempurna. Dia tidak
membutuhkan bantuan siapapun. Dan dialah yang Maha Kaya lagi Maha Mengetahui.
j.
Mautun
(Mati)
Allah
tidak akan mati. Dia bersifat kekal. Terus-menerus mengurus makhluknya Tanpa
tidur dan tidak letih sedikitpun. Dijelaskan dalam Al-Quran:
k.
Shamamun (Tuli)
Mustahil
Allah bersifat Tuli. Allah SWT. adalah Tuhan yang Maha Mendengar. Pendengaran Allah meliputi segala sesuatu.
l.
Ama
(Buta)
Allah
SWT. juga tidak buta. Dia Maha Melihat Segala Sesuatu. Tak ada satu hal pun yang
luput dari penglihatan-Nya.
m.
Bakamun
(Bisu)
Allah
SWT. tidaklah Bisu. Allah berkata dan berfirman dengan sangat sempurna. Tak ada
bisa mengalahkan keindahan firman Allah SWT.
n.
‘Ajizan (Zat yang lemah)
Mustahil
Allah bersifat lemah. Allah SWT. adalah pencipta alam semesta dan segala isinya.
Dia Maha Kuasa atas semua hal.
o.
Karihan (Zat yang terpaksa)
Allah
SWT. bukanlah dzat yang terpaksa. Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Hanya
berfirman “kun fa yakun” maka jadilah apa yang dikehendaki oleh Nya.
p.
Jahilan (Zat
yang sangat bodoh)
Mustahil
Allah adalah dzat yang bodoh. Allah Maha Mengetahui dan Melihat apa-apa yang
ditampakkan atau disembunyikan.
q.
Mayyitan (Zat yang mati)
Allah
tidak mati. Allah bersifat kekal, tidak musnah dan tidak binasa. Dia tidak pernah tidur. Selalu mengawasi hamba-hambaNya
setiap saat.
r.
Ashamma (Zat
yang tuli)
Mustahil
Allah bersifat tuli. Allah adalah Tuhan yang Maha Mendengar. Pendengaran Allah
tak terbatas dan meliputi segala sesuatu.
s.
A’ma (Zat yang buta)
Allah
Maha Melihat, tidaklah buta. Dia Maha Sempurna dengan seluruh keagunganNya.
t.
Abkama (Zat
yang bisu)
Allah bukanlah dzat yang bisu. Allah berfirman dan firmanNya tertuang dalam kitab-kitab suci yang diturunkan lewat para Nabi.
4 4. Sifat Jaiz Allah
Pengertian sifat jaiz Allah adalah sifat yang mungkin (boleh) ada
atau sifat yang mungkin (boleh) tidak ada pada Allah. Dalam kalimat lain, sifat
jaiz ini adalah sifat yang bisa melekat pada Allah dan bisa pula tidak melekat
pada Allah. Sebab semua adalah berdasarkan kehendak-Nya, maka Allah bisa
melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.
0 comments:
Posting Komentar